|
Revolusi untuk Perempuan
By Sukamdi
Penerbitan buku ini pada tahun 2005 dilakukan pada saat yang tepat ketika program keluarga berencana sedang melakukan reorientasi di tengah perubahan sosial ekonomi politik yang begitu cepat selama sepuluh tahun terakhir. Reorientasi ini merupakan suatu keharusan agar program keluarga berencana yang telah berjalan selama hampir 40 tahun tidak kehilangan arah.
Perkembangan yang menarik adalah pada waktu dilakukan diskusi mengenai keluarga berencana di masa yang akan datang, ada indikasi terjadinya pergeseran pendekatan dari pasangan (couples) ke individu. Kelihatannya ini sederhana, tetapi akan memiliki konsekuensi yang sangat penting dalam implementasi program keluarga berencana di masa yang akan datang. Untuk menyebut salah satu implikasi tersebut adalah bahwa kondom tidak lagi hanya dipahami sebagai alat kontrasepsi, tetapi juga sebagai alat pencegah penyakit menular seksual (PMS).
Buku ini juga menarik sebab para penulisnya merupakan orang-orang yang memang memiliki kompetensi yang tinggi dalam dunia kependudukan. Tery dan Valery Hull adalah ahli kependudukan yang sangat kritis dari ANU Australia yang telah berkecimpung sangat lama di dunia kependudukan. Bahkan, tidak berlebihan jika mengatakan bahwa Pak Tery tidak hanya bertindak sebagai pengamat dan akademisi, tetapi juga ikut terlibat secara langsung di dalam program keluarga berencana di Indonesia. Sementara itu, Iwu Dwisetyani Utomo adalah staf Kantor Menteri Negara Kependudukan dan Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) yang saat ini menjadi pengajar dan peneliti di ANU dan Sri Murtiningsih Adioetomo adalah salah satu ahli kependudukan dari Lembaga Demografi UI yang selain sebagai akademisi, juga adalah praktisi. Oleh karena itu, buku ini dapat dipahami sebagai hasil analisis yang sangat lengkap dari orang-orang yang berkompeten di bidangnya.
Dengan membaca judul buku ini, orang akan memiliki ekspektasi bahwa isinya akan sangat luas menyangkut kebijakan kependudukan dan hasilnya di Indonesia. Namun, setelah membaca isinya, orang akan sadar bahwa fokus dari buku ini lebih terletak pada keluarga berencana dan kesehatan reproduksi. Meskipun demikian, hal tersebut tidak mengurangi kualitas isi buku ini secara keseluruhan.
Pembahasan pada bagian pertama yang berjudul From Family Planning to Reproductive Health Care: A Brief History (hal 1-70) menjadi sangat menarik karena Pak Tery dan Bu Val menjelaskan sejarah keluarga berencana di Indonesia sejak Orde Lama sampai tahun 2004 dengan sangat rinci. Meskipun di dalam judul tercantum "A Brief History", isi buku sangat lengkap untuk memahami perubahan orientasi dan kebijakan keluarga berencana di Indonesia. Periodisasi dalam bagian ini selain mempermudah pemahaman terhadap perkembangan keluarga berencana di Indonesia, juga telah berhasil menjelaskan perubahan tersebut dalam konteks perubahan sosial, politik, dan ekonomi. Penjelasan dalam bagian ini, menurut saya, extraordinary karena memadukan latar belakang makrosituasi di Indonesia dan keterlibatan individu-individu dengan berbagai kontribusinya. Hal ini merupakan nilai lebih buku ini. Informasi yang diberikan juga sangat rinci, dan hal itu telah mengingatkan orang tentang beberapa hal penting yang sering dilupakan.
Salah satu contoh, hasil penelaahan terhadap catatan yang dibuat oleh Louis Fischer, seorang jurnalis Amerika, yang menyadarkan kepada kita bahwa secara personal Bung Karno seorang antinatalis, bahkan memiliki simpati terhadap sterilisasi perempuan (hal 13). Pada bagian ini juga secara jelas membeberkan bukti bahwa pada masa Orde Lama praktik dan promosi keluarga berencana sudah dijalankan meskipun belum menjadi kebijakan negara. Informasi menarik yang barangkali tidak banyak diketahui umum adalah kenyataan bahwa Dr. Soebandrio dan istrinya, Dr Hoeroestiati Subandrio, memberikan support yang cukup besar terhadap praktik dan promosi keluarga berencana.
Bagian ini juga mengingatkan kita tentang beberapa kritik terhadap dalam pelaksanaan keluarga berencana di Indonesia pada masa lalu. Misalnya, munculnya indikasi terjadinya pelanggaran hak asasi manusia melalui program "safari" (hal 36-39). Kritik terhadap hal ini tidak hanya berasal dari akademisi, tetapi juga dari praktisi dan lembaga donor. Kritik yang lain berkaitan dengan akurasi data BKKBN. Tulisan di majalah Tempo tanggal 14 Juli 1984 salah satu contoh kritik mengenai validitas dan reliabilitas data laporan bulanan BKKBN. Tulisan Tempo yang didasarkan atas kertas kerja tulisan Kim Streatfield yang diterbitkan oleh Pusat Penelitian Kependudukan Universitas Gadjah Mada (UGM) memperlihatkan adanya gap yang cukup besar antara hasil Sensus Penduduk tahun 1980 dan data BKKBN
Hal lain yang sangat menarik dari bagian ini adalah orang akan paham bahwa dinamika keluarga berencana di Indonesia dapat dijelaskan melalui dua mekanisme. Pertama perubahan kondisi makro baik pada tingkat internasional maupun nasional. Kedua perubahan kepemimpinan, meskipun yang terakhir ini juga tidak lepas dari perubahan politik di tingkat nasional Pada masa Orde Baru tidak terjadi perubahan yang cukup signifikan di tingkat nasional, tetapi pasca-Orde Baru terdapat banyak hal yang kemudian memengaruhi kebijakan keluarga berencana di Indonesia. Kejatuhan Soeharto, krisis ekonomi yang disusul dengan krisis multidimensional, serta pelaksanaan desentralisasi merupakan kondisi yang mengubah wajah program keluarga berencana di Indonesia. Perubahan kepemimpinan yang juga mewarnai perubahan kebijakan BKKBN dijelaskan oleh penulis dengan sangat menarik sejak dari Suwardi Suryaningrat, Haryono Suyono, Ida Bagoes Oka, Khofifah Indar Parawansa, Yaumil Agus Kahir, dan terakhir Sumaryati Aryoso.
Di bagian akhir tulisannya, Pak Tery dan Bu Val (hal 68) menulis " …the story of reproductive health in Indonesia is a remarkable example of just how dramatically behaviour, attitudes, and values can change in a short period of time with little social conflict". Perubahan yang dramatis di Indonesia yang menyangkut kesehatan reproduksi oleh beberapa orang disebut sebagai "revolusi" dan ini barangkali menjadi salah satu catatan penting program keluarga berencana di Indonesia. Sebagaimana dijelaskan oleh Iwu Dwisetyani Utomo pada bagian kedua (hal 71-124) yang berjudul Women’s Lives: Fifty Years of Change and Continuity, paling tidak terminologi revolusi dapat digunakan untuk menjelaskan penurunan rata-rata anggota keluarga, peningkatan jumlah dan proporsi perempuan yang memperoleh pendidikan dan terlibat dalam pekerjaan profesional, serta mengharapkan untuk dapat berpartisipasi secara luas dalam institusi sosial.
Akan tetapi, masih terdapat persoalan yang cukup serius dengan perempuan di Indonesia. Hal ini dijelaskan oleh Iwu dengan cara yang sama pada bagian pertama, yaitu dengan menggunakan periodisasi. Cara ini mempermudah untuk memahami perkembangan kondisi perempuan di Indonesia secara kontekstual. Selain itu, penulis juga mencantumkan cukup banyak studi kasus untuk lebih memahami persoalan secara mikro. Dari pembahasannya, penulis menutup bagian kedua dengan kesimpulan bahwa " …the radical changes of behaviour have not always been matched in speed or direction by changes in social norms or individual attitudes". Meskipun Iwu yakin bahwa 50 tahun yang akan datang akan terjadi perubahan kehidupan perempuan yang menjanjikan di Indonesia dibandingkan dengan saat ini, ia menyisakan cukup banyak pertanyaan khususnya menyangkut hak dan kesehatan reproduksi.
Pada bagian ketiga, yang berjudul Reshaping Populations (hal 125-168), Sri Murtiningsih Adioetomo membahas perubahan dinamika kependudukan secara umum selama 50 tahun terakhir serta menekankan perubahan di bidang pendidikan dan transformasi kehidupan perempuan. Di luar pembahasan mengenai tren demografi yang dalam berbagai tulisan telah banyak dibahas, kesimpulan menarik pada bagian ini adalah mempertajam penegasan tulisan bagian kedua dan pertama tentang terjadinya "revolusi" di Indonesia.
Sri Murtiningsih Adioetomo menyebutkan bahwa ada kecenderungan perempuan berada lebih lama di sekolah, bekerja pada saat dewasa dan menikah belakangan. Data yang disajikan pada bagian ini juga memberikan bukti bahwa telah terjadi perubahan jumlah anak yang sangat signifikan, yaitu dari rata-rata 6 pada tahun 1970-an menjadi lebih kurang 2,6 pada tahun 2002/2003. Secara kuantitatif keberhasilan keluarga berencana juga disajikan dalam bagian ini, dari lebih kurang 25 persen pada tahun 1976 menjadi 60,3 persen pada tahun 2002-2003. Perubahan yang sangat penting selama periode 1970-2000 adalah perubahan kehidupan perempuan. Partisipasi angkatan kerja perempuan tumbuh secara cepat dan perempuan semakin banyak yang terserap di sektor industri dan sektor formal. Keterlibatan perempuan dalam pekerjaan profesional semakin meningkat. Semua faktor tersebut akan memengaruhi peran perempuan di masa yang akan datang.
Pada bagian akhir buku yang berjudul Postcript: 2004 (hal 169-175) yang ditulis oleh Tery Hull menyebutkan tiga hal penting yang harus dijadikan rujukan bagi kebijakan kesehatan reproduksi di Indonesia. Pertama, adanya kegagalan untuk melihat pilihan individu (individual choice) sebagai faktor yang menentukan perilaku dan kesehatan reproduksi. Kedua, struktur umur penduduk telah dan akan berubah, dan hal ini membawa konsekuensi terhadap perumusan kebijakan kependudukan di masa yang akan datang. Ketiga, menurut Tery Hull, ekspresi mengenai moralitas oleh publik merupakan hambatan bagi pemerintah untuk program pemerintah yang efektif dan pragmatis di bidang kesehatan reproduksi.
Buku ini mencoba menjelaskan bahwa telah terjadi revolusi, baik di bidang program keluarga berencana dan kesehatan reproduksi maupun yang menyangkut perubahan kondisi perempuan Indonesia. Kata revolusi secara eksplisit digunakan di semua bagian untuk mengekspresikan perubahan yang sangat drastis dalam waktu yang relatif pendek. Beberapa ahli juga telah menggunakan istilah "revolusi" untuk menjelaskan perubahan angka kelahiran dan kematian di Indonesia. Mungkin kata tersebut tepat untuk menggambarkan perubahan di Indonesia. Dengan demikian, perlu segera mengantisipasi setiap dampak dari revolusi tersebut.
|